M Amin Soelthon Tokoh Pers yang Mengayomi itu Telah Pergi untuk Selamanya

M Amin Soelthon Tokoh Pers yang Mengayomi itu Telah Pergi untuk Selamanya

BERBAGI

Oleh : Irwanto
(Pranata Humas Pemprov Babel/Mantan Wakil Ketua PWI Babel)

Kepulauan Bangka Belitung (Babel) kembali berduka. Kali ini Negeri Serumpun telah kehilangan seorang putra terbaiknya di bidang pers atau media massa.

Pada Senin (16/1/2023), tokoh pers M Amin Soelthon telah wafat pada usia 83 tahun. Jenazahnya dimakamkan di TPU Air Pauh Perumnas Kace Timur.

Selama ini Amin dikenal sebagai tokoh pers yang tetap setia menggeluti profesinya di bidang pers atau jurnalistik hingga di usia sepuh.

Dia merupakan pegawai Radio Republik Indonesia (RRI) yang juga dikenal sebagai pelopor atau tokoh perintis beberapa media massa yang ada di Babel.

Amin juga terlibat langsung dalam proses pendirian organisasi Persatuan Wartawan Seluruh Indonasia (PWI) Cabang Babel terpisah dari PWI Cabang Sumatera Selatan pasca berdirinya Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Amin dilahirkan di Tanjung Gelam OKI Sumatera Selatan pada 6 Maret 1942. Karier jurnalistik suami dari Tauhidah ini dimulai saat ia bergabung sebagai koresponden Surat Kabar Api Pancasila, harian Angkatan Bersenjata (AB), dan Kantor Berita Antara di Palembang (Irwanto/Majalah Pemkot Pangkalpinang edisi Oktober 2006).

Kemudian Amin menjadi karyawan Radio Republik Indonesia (RRI) sekaligus menjadi reporter di radio milik pemerintah itu.

Tak lama kemudian Amin bersama beberapa tenaga teknis dan siaran ditunjuk dalam rangka pendirian RRI Persiapan Pangkalpinang.

Setelah selesai semua tahap dan proses pembuatan ruang ruang siaran maupun pemasangan peralatan siaran dan pemancar, maka pada 15 Desember 1966 diadakan siaran percobaan/perdana sekitar Pukul 12.00 WIB dengan Station Call: “Inilah Radio Republik Indonesia Persiapan Pangkalpinang-Bangka melalui gelombang 90,23 m atau frekuensi 3322,5 khz”.

Baca Juga  Tuhan Kabulkan Doaku

Para penyiar perdana terdiri dari M. Amin Soelthon, Emil Hasan, Zawariah, Syamsudin, Sudirman Hasti, dan Effendi. Teknis/Operator Nirmala Utaruk, Victor Manafe, Zulkar HK, dan A. Senari.

Setelah siaran percobaan selama sepekan, RRI siaran langsung menyiapkan berita-berita dan reportase kegiatan pemerintahan, pembangunanan dan masyarakat. Saat itu penyiar sekaligus merangkap redaktur dan reporter.

Dengan demikian RRI Persiapan Pangkalpinang resmi tercatat sebagai media massa elektronik pertama di Bangka Belitung yang merupakan sarana komunikasi penyiaran. Visi dan misinya waktu itu termasuk mendukung perjuangan berdirinya Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Oleh Panca Tunggal (muspida) Pangkalpinang/ Kabupaten Bangka, Amin Soelthon, tenaga siaran yang didetasir oleh RRI Palembang langsung ditunjuk oleh pemda/panitia teknis RRI Pangkalpinang sebagai pembina/pelaksana studio RRI Pangkalpinang/ Kabupaten Bangka.

Meskipun ternyata perjuangan Provinsi Babel gagal pada 1971, siaran RRI Pangkalpinang tetap berlangsung terus dengan semangat maju terus pantang mundur.

“Apapun namanya saya harap siaran jalan terus……!” kata HM Arub Bupati Bangka di hadapan Amin pada malam lebaran 1972 di rumah pribadinya di Jalan Mentok (kini Jalan Depati Amir) Pangkalpinang (Buku Peranan Pers dari Masa ke Masa di Provinsi Bangka Belitung/PWI Babel/2006).

Dalam perkembangan selanjutnya setelah 24 tahun, RRI Persiapan Pangkalpinang pun menjadi RRI definitif menjadi RRI Sungailiat, yakni ketika turunnya dana proyek bantuan bank dunia untuk pembangunan RRI pada 1990.

Waktu itu untuk pembangunan RRI di Pangkalpinang mengalami kesulitan lokasi. Pasalnya, tak ada cadangan lahan untuk area studio produksi dan pemancar RRI yang dimintakan pusat seluas 12 hektar.

Lokasi yang dicadangkan pemda di Selindung Baru hanya 5400 m2 dan 2 hektar di kawasan Tuatunu ternyata tak mencukupi.

Baca Juga  Mengejar Emas Benua Maritim Indonesia

Atas persetujuan Walikotamadya Pangkalpinang, H. Rosman Djohan dengan Bupati Bangka, R. Haryono, maka lokasi pembangunan RRI Pangkalpinang dialihkan dan disiapkan di Sungailiat Kabupaten Bangka.

Sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan atas jasa-jasanya, di kemudian hari Amin diangkat sebagai Kepala Seksi Pemberitaan RRI Sungailiat.

Setelah pensiun dan tak aktif di RRI Sungailiat, Amin terus eksis sebagai jurnalis. Pada saat Tabloid Suara Bangka berubah menjadi Surat Kabar Mingguan Bangka Ekspres (BE) yang terbit pada 7 April 2000, Amin dipercaya sebagai pemimpin umum/pemimpin perusahaan.

Waktu itu kantor SKM BE pun pindah dari ruko lantai tiga kawasan depan SPBU Jalan Jenderal A. Yani Dalam ke bekas salah satu kantor milik PT Timah Tbk yang terletak di depan Hotel Palapa (kini Hotel Cordela).

Dalam perubahan ini, hanya sebagian pimpinan yang berganti sedangkan mayoritas pegawai termasuk di jajaran redaksi masih didominasi oleh awak redaksi Tabloid Harian Suara Bangka.

Pemimpin Umum/Perusahaan BE waktu itu adalah M. Amin Soelthon, Pemimpin Redaksi Husin AR, Koordinator Liputan KA Roni Achmad, Redaktur Pelaksana Irwanto (penulis), dan Sekretaris Redaksi Syawaludin (kini anggota Komisi Informasi Pusat).

Sebagai penerbit SKM BE ini adalah Yayasan Prima Citra Media yang dipimpin oleh Mirza Ibrahim.

Waktu itu SKM Bangka Ekspres merupakan kawah candradimuka bagi kalangan jurnalis di Kepulauan Bangka Belitung. Para jurnalisnya yang ditempa secara militan di kemudian hari banyak yang menjadi wartawan dan pimpinan redaksi di media lokal lainnya seperti Bangka Pos, Babel Pos, dan Rakyat Pos.

Baca Juga  Hanya Satu Perempuan

Tak kalah menariknya, organisasi PWI Babel pun pernah membidani lahirnya media lokal yakni Tabloid Metro Babel.

Tabloid Metro Babel yang dimiliki beberapa pengusaha Babel ini konsep proposal dan rancangan penerbitannya dibuat oleh Irwanto (Wakil Ketua PWI Babel/mantan Redpel SKM BE dan Pemred Rakyat Pos) dan Replianto (Sekretaris PWI Babel/Reporter RCTI) atas penugasan Ketua PWI Babel Hermansyah Bermani.

Sebagian besar awak redaksinya tentu saja jurnalis yang berasal dari anggota atau pengurus PWI Babel seperti Amin Sulthon, Hermansyah Bermani, dan Husin AR.

Kendati sibuk mengurusi manajemen media massa yang dipimpinnya, Amin dikenal sebagai pengurus PWI Babel yang aktif.

Bahkan Amin bersama penulis dan beberapa pengurus lainnya sempat hadir dalam acara Hari Pers Nasional (HPN) dan Porwanas pertama yang diikuti PWI Babel di Banjarmasin Kalimantan Selatan pada 2002 lalu.

Dalam ajang Porwanas Amin juga dikenal sebagai atlet tenis lapangan yang disegani. Berkali-kali Amin tampil mengharumkan nama PWI Babel di ajang Porwanas yang digelar PWI Pusat.

Memang sejak lama Amin aktif dalam olahraga tenis di Pangkalpinang.
Di kepengurusan PWI Cabang Babel, Amin antara lain tercatat pernah menjabat sebagai bendahara maupun Ketua DKD.

Makanya tak heran Amin sangat disegani dan dihormati kalangan anggota PWI Babel. Bahkan Amin dikenal sangat mengayomi dan memberi nasihat pada kalangan jurnalis muda.

Namun akhirnya perjalanan sang pelopor media massa di Babel ini pun akhirnya berhenti. Allah SWT telah memanggilnya untuk kembali pada Senin (16/1/2023). Selamat jalan sahabat dan senior kami.

Namamu akan terukir indah dalam rekam jejak sejarah pers di Pulau Timah. (*)

LEAVE A REPLY