Suarapos.co.id
Suarapos.co.id
Seperti Memeluk Batu, Ara Pencekik “Penjaga” Bukit Granit di Babel

Seperti Memeluk Batu, Ara Pencekik “Penjaga” Bukit Granit di Babel

BERBAGI

Suarapos.com – Di Kepulauan Bangka Belitung terdapat puluhan bukit granit yang tetap terjaga kelestariannya. Hal penting yang membuat hutan di bukit-bukit itu terjaga karena keberadaan pohon ara (Ficus spp).

Bagi masyarakat adat di Kepulauan Bangka Belitung, pohon ara yang disebut “kayu are” dilarang untuk ditebang. Jika ditebang, pelakunya akan menerima petaka. Pohon ara lekat dengan tradisi masyarakat adat Kepulauan Bangka Belitung.

Pohon ara yang berbuah sepanjang tahun, menjadi sumber pakan sejumlah satwa liar di hutan Kepulauan Bangka Belitung, seperti mentilin atau tarsius, binturong, kangkareng hitam, hingga rusa sambar.

Pohon ara dipahami masyarakat adat di Kepulauan Bangka Belitung sebagai penjaga air tanah dan penahan longsor.

Kayu are, masyarakat di Kepulauan Bangka Belitung biasa menyebut pohon ara dengan nama ilmiah Ficus dari Suku ara-araan (Moraceae) ini.

Tercatat, sekitar 350 dari 800 jenis pohon Ficus spp. ada di Indonesia, yang di beberapa wilayah dikenal dengan nama beringin, bulu, ara, atau kiara. Di antara ratusan jenis tersebut, sekitar 36 persen (270 jenis) merupakan jenis Ficus dari subgenus Urostigma, yang 68 jenisnya terdapat di Indonesia.

“Ciri khas subgenus Urostigma dibandingkan subgenus Ficus lain adalah kemampuannya membentuk akar napas atau udara [aerial roots] dan terkadang memiliki habitus sebagai hemiepifit,” tulis Peniwidiyanti dan Muhammad Rifqi Hariri dari Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya Bogor, dalam penelitiannya 2019 lalu.

Di kalangan peneliti, jenis pohon ini dikenal sebagai ara pencekik atau strangling tree. Julukan “pencekik” bisa tergambar dari lima fase siklus pohon sebagai hemiepifit, sebagaimana dikutip dari Warta Kebun Raya Bogor 15 [1], yang ditulis Peniwidiyanti pada Mei 2017.

Fase pertama, menempelnya buah ara pada pohon inang, guna mendapatkan cahaya matahari yang lebih baik, dibandingkan tumbuh di lantai hutan. Fase kedua, pohon ara mulai mengulurkan akar udaranya ke permukaan tanah, serta memperpanjang cabang menuju datangnya matahari.

Baca Juga  42 Peserta Pelatihan Berbasis Kompetensi BLK Babel Diharapkan Mampu Bersaing

Fase ketiga, pohon ara memulai proses kompetisi dengan inangnya. Pohon ara jelas lebih unggul, karena selain mendapat nutrisi dari akar napas yang dijulurkan ke tanah, pohon ini juga menghisap nutrisi dari tumbuhan inangnya.

Fase keempat, saluran pembuluh angkut pohon inang terputus, yang secara perlahan akan mati. Fase kelima, pohon ara muncul sebagai pemenang dan tumbuh secara mandiri [free-standing strangler].

“Terkadang pohon inang yang mati, masih terdapat di dalam pohon dan menciptakan rongga di balik batang hemiepifit,” tulis penelitian tersebut.

Pohon Ara dan Tradisi

Khusus wilayah perbukitan di Kepulauan Bangka Belitung, ara pencekik dapat tumbuh di atas bongkahan-bongkahan batu granit. Dalam perjalanan Mongabay Indonesia ke sejumlah bukit di Kepulauan Bangka Belitung, seperti Gunung Maras [Kabupaten Bangka], Bukit Penyabung [Kabupaten Bangka Barat], Bukit Tuing [Kabupaten Bangka], Bukit Mangkol [Kabupaten Bangka Tengah], Bukit Nenek [Kabupaten Bangka Selatan], dan Bukit Peramun [Belitung], vegetasi hutan didominasi pohon ara.

“Sekilas kayu are seperti memeluk batu-batu di bukit, terlihat indah sekaligus mengerikan,” kata Sukardi, tokoh Suku Mapur di Dusun Tuing, Desa Mapur, Kabupaten Bangka, kepada Mongabay Indonesia, Minggu [22/05/2022].

Bagi kebanyakan masyarakat Melayu di Kepulauan Bangka Belitung, keberadaan pohon ara berukuran besar erat kaitannya dengan cerita mistis atau titik sakral sebuah wilayah hutan.

Seperti yang dilakukan masyarakat Suku Jerieng di Desa Pelangas, yang setiap 1 Muharram melakukan ritual di sekitar pohon ara terbesar di Bukit Pelangas.

“Leluhur kami sudah melakukannya sejak dulu. Ritual yang dimaksudkan sebagai bentuk rasa syukur sekaligus berdoa agar dibebaskan dari segala penyakit,” kata Masliadi, warga Desa Pelangas, Kabupaten Bangka Barat.

Ikatan spiritual masyarakat Melayu dengan pohon ara, menjadi salah satu penyebab masih terjaganya sejumlah pohon ara besar di perbukitan di Kepulauan Bangka Belitung.

Baca Juga  Rahasia 6 Atlet Renang Babar Borong 19 Medali di Banten Open 2022

“Jarang yang berani menebang, karena ada cerita akan terkena balak atau sakit jika melakukannya,” ujar Masliadi.

Pakan Satwa Hutan

Secara ekologi, pohon ara mempunyai manfaat luar biasa, terutama menyediakan pakan [buah] sepanjang tahun bagi satwa liar.

Menurut Langka Sani, Ketua PPS Alobi Foundation Bangka Belitung, pohon ara merupakan unsur penting dalam ekosistem hutan. Satwa langka di Kepulauan Bangka Belitung seperti mentilin atau tarsius, binturong, kangkareng hitam, hingga rusa sambar sangat bergantung pada pohon ara.

“Ketika sejumlah pohon mempunyai musim berbuah tidak menentu, pohon ara mampu menyediakan pakan primer bergizi. Ini karena kemampuannya menghasilkan buah sepanjang tahun,” katanya.

Oleh karena itu, kata Langka, sangat peting untuk tetap menjaga kelestarian pohon ara, khususnya di Kepulauan Bangka Belitung.

“Pohon ara merupakan spesies kunci dalam kelestarian ekosistem hutan,” jelasnya.

Penjaga Air

Dalam perjalanan Mongabay Indonesia menyusuri Bukit Peramun, Belitung, pada 23 April 2022 lalu, pohon ara pencekik menjadi vegetasi yang mendominasi bukit dengan ketinggian sekitar 129 meter tersebut.

Adie Darmawan, Ketua Komunitas Air Selumar [Arsel Community] Belitung, selaku pengelola Hutan Kemasyarakatan [HKm] Bukit Peramun seluas 115 hektar mengatakan, terdapat 12 titik mata air di Bukit Peramun yang dimanfaatkan warga sekitar.

“Terjaganya sumber mata air karena peran pohon ara yang mendominasi Bukit Peramun, selain vegetasi hutan yang terjaga,” katanya.

Selain di Belitung, kehadiran pohon ara juga menjaga sumber mata air “kasak tade” di sekitar kaki Bukit Pelawan, Dusun Air Abik, Kabupaten Bangka.

“Sumber air ini tidak pernah kering selama kemarau panjang, meskipun ada pengurangan debit. Warga selalu memanfaatkannya sebagai kebutuhan harian,” terang Gedoi [53], Ketua Adat Suku Mapur di Dusun Aik Abik.

Peniwidiyanti dalam tulisannya “Hemiepifit Ficus spp. Di Kebun Raya Bogor” kembali menjelaskan, hemiepifit Ficus spp. memiliki akar aerial kokoh yang menopang dan berlapis melilit pohon inang, sehingga sistem perakarannya kuat dan dalam.

Baca Juga  Pemprov Babel Dukung Pelaksanaan Rakornas P2DD

“Hal ini menjadi alasan pada beberapa budaya di Jawa menjadikannya sebagai tanaman tepi sumber air karena mampu menyimpan air dalam jumlah besar [Baskara dan Wicaksono, 2013],” tulisnya.

Artikel yang sama juga menyatakan, Ficus spp. dianggap sebagai tanaman identitas karst [flagship] karena daya adaptasi yang tinggi [Baskara dan Wicaksono, 2013].

“Sedangkan, di perkotaan, Ficus spp. dapat dimanfaatkan sebagai tanaman penghijau, meningkatkan fungsi estetika, fungsi ekologi, fungsi sosial, konservasi flora hingga mereduksi polutan pencemar udara [Suad 2017],” tulisnya.

Penahan Longsor

Berdasarkan artikel ilmiah yang ditulis Irvani dkk, dari Universitas Bangka Belitung, dalam Conference: SNPPM “Inovasi Sains dan Teknologi untuk Mendukung Kemandirian Bangsa” Universitas Bangka Belitung tahun 2018, dijelaskan bahwa secara fisiografi Pulau Bangka merupakan pulau terbesar pada Paparan Sunda [Van Bemmelen, 1970].

“Daratan umumnya berupa dataran denudasional, bukit-bukit sisa erosi. Batuan beku granit, umumnya sebagai batuan pembentuk bukit-bukit tersebut sebagai bagian tubuh pluton batuan beku,” tulisnya.

Kondisi ini membuat sejumlah bukit di Kepulauan Bangka Belitung rawan longsor, ketika vegetasi hutan di atasnya mulai gundul akibat kebakaran, pembalakan, dan sebagainya. Ini seperti yang terjadi di Bukit Maras, bukit tertingi sekaligus Taman Nasional di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

“Hingga sekarang, masih terdengar suara longsor yang membawa batuan dari puncak Bukit Maras. Longsor mulai terjadi sejak kebakaran melanda Gunung Maras tahun 2015, 2019, dan 2020,” kata Damino [51], yang rumahnya di kaki Bukit Maras, Desa Berbura, Kabupaten Bangka.

Padahal, menurut Damino, sebelum terjadi kebakaran, vegetasi hutannya didominasi pohon ara.

“Sebelum tahun 2000, banyak batuan di Bukit Maras diikat akar kayu are, kini mulai menghilang,” paparnya. (*/fh)

Sumber: Mongabay.co.id

LEAVE A REPLY