Sugeng Rawuh, Yogya yang Asing…

Sugeng Rawuh, Yogya yang Asing…

BERBAGI

Catatan Fakhruddin Halim
Selasa 22 Febaruari 2022

SUARA GAMELAN mengiringi langkah di sepanjang koridor hingga pintu keluar Bandar Udara Yogyakarta. Di sepanjang koridor sejumlah benda seni di pajang. Lukisan, ukiran kayu dan patung. Bandara Internasional itu tampak sepi, Senin petang, 21 Februari 2022.

Di dinding di atas eskalator menuju lantai dasar tertulis “Sugeng Rawuh” terasa sekali nuansa Yogya. Ornamen dan sejumlah bagian dari bangunan bandara ini sangat khas Yogya.

Bandara Internasional Yogyakarta, ada di Kabupaten Kulonprogo, perbatasan dengan Purworejo. Dari bandara hanya berjarak 2 kilometer ke Purworejo.

Sedangkan dari Bandara menuju Kota Yogyakakarta berjarak sekitar 70 kilometer atau butuh jarak tempuh sekitar 1-1,5 jam.

“Kanjeng Sultan mboten setuju. Beliau minta dibangunkan di Bantul, tapi Jakarta tetap ngotot di sini,” kata supir taksi Primkopau yang saya tumpangi.

Selain jaraknya cukup jauh yang otomatis biaya transportasi tambahan membengkak. Saya harus merogoh kocek Rp225.000,- ongkos bandara – Yogyakarta.

“Yogya itu kan kota wisata, bandara jauh seperti ini tidak efisien bagi wisatawan,” ujarnya.

***

Saya menginap di Kotta Go Hotel Yogyakarta di Jalan Pangeran Diponegoro. Hanya berjarak sekitar 200 – 300 meter dari Tugu Yogyakarta. Dulu sejumlah aksi mahasiswa sering di gelar di Tugu Jogjakarta. Termasuk ketika BMM naik kami waktu itu menggelar aksi protes di Tugu Yogya malam hari. Kini Tugu Yogyakarta dikelilingi pagar besi setinggi satu meteran lebih.

Malam itu kami memilih salah satu kedai kopi di seberang Tugu Yogyakarta. Kami pilih tempat duduk di lantai dua dan di teras luar yang menghadap tugu.

Dari tempat duduk hanya berjarak sepelemparan batu ke tugu. Sejumlah anak muda tampak bergerombol bermain skateboard.

Sekitar pukul 22.00 Wib, Mas Aruman, datang menjemput saya di hotel. Ia kawan sejak sama-sama masih kuliah, meski beda kampus. Kami sangat akrab bahkan suaangat akrab.

Ia kuliah di ISI, Jurusan Kriya. Kini dia mengabdi sebagai dosen di almamaternya. Ia seniman multi talenta. Selain kriya, ia juga seniman batik, lukis dan pandai pula memainkan sejumlah alat musik.

“Mas Udin sudah lama toh ndak ke Jogja. Saya ingin ngajak Mas Udin muter-muter, nanti kita makan sate,” kata Aruman.

Sejak.meninggalkan Yogyakarta, sekitar 12 tahun lalu pernah mampir sekitar dua tiga jam, itu pun malam hari. Saya ke Solo, lalu ke Yogyakarya, balik lagi ke Solo.

Saya pun setuju saja. Malam itu hanya kami berdua dalam mobilnya. Dua kawan saya tawarkan ikut, menolak dengan halus.

Dari hotel mobil bergerak ke Tugu Yogya, lalu ke arah Selatan, menyusuri Jalan Pangeran Mangkoebumi.

“Sekarang mobil boleh parkir di kanan kiri jalan. Ndak ada lagi pedagang kaki lima,” katanya memulai percakapan.

Mobil melaju pelan mengikuti jalan arah ke kiri, sebelum masuk Jalan Malioboro, melewati depan Taman Parkir Abu Bakar Ali.

Kini dibangun gedung berlantai dua atau tiga. Dulu hanya ruang terbuka, ramai bis atau kendaraan roda empat. Sedangkan sepeda motor bisa parkir di sepanjang Malioboro.

“Lantai dua untuk parkir sepeda motor, tapi sepi, gak ada yang mau parkir di sana. Terlalu jauh. Orang lebih memilih parkir di gang-gang sepanjang Malioboro,” ujar Aruman.

Aruman terus bercerita layaknya seorang guide yang baik sedang mengantar wisatawan. Sementara saya terdiam melihat kanan kiri sembari mengingat-ingat masa dua puluhan tahun lalu. Saya merasa sangat asing. Malioboro rupanya sudah banyak berubah.

“Pedagang kaki lima tak boleh lagi berjualan di sepanjang Malioboro. Mereka disiapkan tempat khusus, ngumpul di situ,” kata Aruman, sembari menunjuk satu lokasi sebelah kiri jalan yang kami lewati.

“Kini di sepanjang Malioboro di pasang kursi,” lanjutnya.

“Kursi itu buat apa?” tanya saya.

“Ya jadi cuma tempat orang duduk-duduk nongkrong begitulah,” ujar Aruman.

“Trotoar itu cuma buat pejalan kaki aja. Suasana khasnya Malioboro jadi hilang,” lanjutnya.

Dulu meski malam sudah larut, Malioboro masih tetap ramai. Paling tidak oleh para pedagang yang merapikan dagangannya atau tidur di dekat dagangannya.

Kami biasa pulang pukul 12.00 Wib dari Malioboro menumpang Andong yang pulang menuju Bantul, tentu saja gratis. Kos kami di Krapyak Wetan.

Mobil terus bergerak melewati Alun-alun Utara, lalu ke Alun-alun Selatan, masuk Jalan DI Panjaitan.

Saya mengingat-ingat bangunan kiri kanan Jalan DI Panjaitan, nyaris lupa semuanya. Begitu di depan Gereja yang berada di sebelah kiri jalan saya minta berhenti.

“Maju dikit lagi mas, pas di depan bangunan samping gereja,” pinta saya.

Mobil menepi pas di depan bangunan yang persis bersebelahan dengan gereja. Bangunan itu nyaris tidak saya kenali. Dulu hanya ada pintu pagar besi. Dari jalan bangunan terlihat jelas.

Kini selain pagar besi yang tidak berubah termasuk catnya berwarna cokelat, ada pula gerbang bagian dalam.setinggi tiga meteran sehingga menutupi bangunan dari depan.

“Ini kos saya yang pertama mas, sama abang saya,” ujar saya.

Kos ini lebih dikenal dengan nama, Paviliun 39. Kamar saya berada pada nomor dua barisan sebelah kanan.

Kos saling berhadapan dipisahkan oleh halaman seluas 5 meter. Deretan kanan, kamar Erlan Nopri, kamar saya dan abang, Oji lalu Ical si anak Sulawesi yang takut naik pesawat.

Deretan kiri, Kamar Ujang, Tomy dan Yudi, Erwin, Ipul, Yudi dan Martinus, Roi, Wawan dan Agung Bayu.

Ongkos bulanan kos waktu itu Rp70.000 per bulan. Untuk ukuran waktu itu cukup mewah. Setiap kamar ada kamar mandi.dan ada ruang yang bisa difungsikan sebagai dapur atau tempat lemari pakaian.

Kos itu punya pak Muchayat, pengusaha batik. Masih kerabat Keraton Jogja. Saya pernah beberapa kali ke rumahnya di komplek keraton membayar uang kos. Selebihnya biasanya uang kos cukup dititip sama orang kepercayaannya Gino.

Dia sering datang mengontrol kosan dan memperbaiki kerusakan-kerusakan kecil, Gino juga berperan sebagai informan Pak Muchayat.

Di depan gerbang kosan saya minta difoto Mas Aruman.

“Kita ke Krapyak ya,” kata Aruman.

Saya mengangguk saja. Beberapa bangunan di Krapyak masih banyak yang saya kenal. Meski mobil harus bergerak pelan karena banyaknya jalan-jalan sempit yang harus dilewati.

Di depan salah satu gang mobil berhenti. “Mau turun mas?” ujar Aruman.

Saya bilang tidak usah. Sudah larut. Bapak Kos Pondok Bribumi, Pak Kudik mungkin sudah tidur. Cukup lama saya memandang gang kecil yang hanya bisa dilewati sepeda motor menuju kosan saya yang terakhir di Yogyakarta. Selama di Yogyakarta saya ngekos di enam tempat.

Mobil pun bergerak kembali, tiba di depan kampus mobil kembali behenti. Kampus itu sudah tidak ada. Yang tersisa hanya gerbangnya saja yang tetap utuh, lengkap dengan atap genteng merah.

Kampus itu, dengan arsitektur bergaya Spanyol, era saya kuliah memiliki mahasiswa sekitar 12.000-an. Ketika terjadi konflik antar pengurus yayasan, generasi kedua, kampus tengah berada di puncak. Salah satu kampus elit dan kampus besar swasta di Yogyakarta.

Fasilitasnya sangat lengkap. Gedung perpustakaannya saja 6 lantai, lengkap dengan lift. Begitu pula gedung administrasi, laboratorium, auditorium, gedung perkuliahan dan fasilitas penunjang lainnya.

Konflik itu pun berakhir dengan hancurnya gedung-gedung megah itu akibat gempa besar Tahun 2006.

Gempa 2006 terjadi sekitar pukul 05.53 WIB, berkekuatan 5,9 Skala Richer mengguncang bumi Yogyakarta sekitar 57 detik, menghancurkan ratusan ribu rumah dan menyebabkan ribuan orang meninggal.

Dari data BPBD Bantul, jumlah korban meninggal di wilayah Bantul ada 4143 korban tewas, dengan jumlah rumah rusak total 71.763, rusak berat 71.372, rusak ringan 66.359 rumah. Total korban meninggal gempa DIY dan Jawa Tengah bagian selatan, seperti di Klaten, tercatat mencapai 5.782 orang lebih, 26.299 lebih luka berat dan ringan, 390.077 lebih rumah roboh akibat gempa waktu itu.

Saya pun turun. Di depan gerbang saya berdiri menghadap lahan kosong itu. Saya mengingat-ingat masa dua puluhan tahun lalu. Pemuda polos, anak kampung Sumatera yang tiba di Kampus ini, di antara dua ribuan mahasiswa baru, suatu pagi.

Tangan saya menyentuh atap genteng Pos Satpam yang tidak terlalu tinggi itu. Air mata saya menetes. Di sini, di kampus ini, di tanah ini saya menemukan kebenaran.

“Rasanya tak ada lagi yang bisa dikunjungi malam ini, kita cari sate aja,” ujar Aruman.

Kami menuju arah Selatan Kampus, ke Arah Imogiri. Sate Klatak Pak Pong sudah tutup, begitu pula beberapa penjual sate lainnya sudah tutup, maklum sudah dini hari.

Sate Kambing Muda Pak Jupaini, rupanya masih buka. Kami memesan sate klatak, lengkap dengan tongseng.

Tiba di kamar hotel saya buka hanphone sudah Pukul 02.00 Wib. Selasa pagi ada janji di PSIT (Pusat Studi Ilmu Teknik) UGM, Ruang Thorium. Saya segera memejamkan mata. (*)

 

 

 

 

LEAVE A REPLY