BANDA ACEH — Wakil Gubernur Aceh, H. Fadhlullah menyerukan seluruh masyarakat Aceh untuk menjaga perdamaian yang telah terbangun dan memastikan situasi damai terus berlangsung secara berkelanjutan. Ia menegaskan, konflik dan keributan tidak akan memberikan keuntungan bagi siapa pun.
Pesan tersebut disampaikan dengan mengingatkan kembali bahwa banyak pihak di Aceh saat ini merupakan bagian dari sejarah perjalanan konflik dan perdamaian di daerah tersebut.
“Tidak ada keuntungan dalam keributan. Kami ini adalah semua pelaku sejarah,” ujar Wagub Aceh dikutip Sabtu (15/8/2026).
Ia menyebut dirinya juga memiliki latar belakang sebagai mantan kombatan GAM. Menurutnya, pengalaman masa lalu seharusnya menjadi pelajaran penting agar Aceh tidak kembali terjebak dalam pertarungan yang hanya membawa kerugian bagi masyarakat.
Wagub juga menyinggung bahwa unsur kepolisian yang kini bertugas di Aceh memiliki pengalaman dalam perjalanan panjang daerah tersebut.
“Pak Polisi, Pak Kapolda kita juga bekas di Aceh. Jadi pertarungan, TNI pertarungan, tidak ada keuntungan bagi kita semua,” katanya.
Menurutnya, energi masyarakat Aceh seharusnya diarahkan untuk membangun ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan, bukan kembali membuka ruang bagi konflik.
Ia menilai Aceh masih menghadapi tantangan dalam mengejar pertumbuhan ekonomi dibandingkan sejumlah provinsi lain yang dinilai telah lebih dahulu bangkit.
“Kita telah rasakan pertumbuhan ekonomi lambat. Di saat provinsi lain telah bisa bangkit dan mereka lari, kita masih lahir untuk menata diri,” ujarnya.
Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan perdamaian sebagai modal utama untuk mengejar ketertinggalan.
“Inilah kesempatan bagi kita dengan jalannya damai. Mari kita bangkit dalam ekonomi dan masyarakat kita bisa tumbuh,” tegasnya.
Wagub berharap Aceh mampu memanfaatkan kondisi damai untuk memperkuat pembangunan, membuka lebih banyak peluang ekonomi, serta meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.
Ia menutup pesannya dengan harapan agar Aceh dapat tumbuh menjadi daerah yang makmur, aman, dan sejahtera.
“Dan Aceh bisa tumbuh menjadi negeri baldatun, thayyibatun wa rabbun ghafur,” pungkasnya. (*)






































