Bola, Atur Skor AFF, Invictus dan Juara

Bola, Atur Skor AFF, Invictus dan Juara

BERBAGI
Foto : Net

Catatan Iwan Piliang
(Wartawan Senior)

Tadi malam menyimak pertandingan Bola, Indonesia-Singapura, menjadi hal pertama dalam hidup saya. Pertama kali menyimak tiga kartu merah, pertama kali lihat kiper kena kartu merah. Pemain depan berganti kaus kiper, dialami Singapura. Seakan serasa main game bola.

Sudah dipastikan jagad Sosmed dari semalam heboh Bola. Semua layak gembira, Indonesia maju ke final AFF, untuk ke-6 kalinya.

Teringat akan Indonesia masuk final AFF 2010, melawan Malaysia. Leg pertama di Bukit Jalil, Malaysia. Beruntung kala itu saya diajak rombongan Anas Urbaningrum, Partai Demokrat, ke sana kami naik berpesawat khusus. Karena spesial, hotel pun sama dengan pemain nasional kita, baik di kala sarapan maupun makan siang, kami bersebelahan dengan para pemain kebanggaan kala itu. Saya masih ingat, rasa kacang di gado-gado, salah satu menu buffet hotel kala itu.

Harapan juara kala itu tinggi. Ada Irfan Bachdim, baru pulang dari luar negeri, ada Christian Gonzales, pemain naturalisasi, mesin pencetak goal, di antaranya.

Syahdan, di hari pertandingan, tim nasional kita dicukur habis 3-0. Gol pertama Malaysia, saya tak habis pikir, di dalam hati kok Maman Abdurahman, bek, seperti melepas bola tinggal disepak Malaysia masuk ke gawang sendiri? Pun goal berikutnya drama seakan sama. Karena duduk di bangku oke, maka melihat dengam mata kepala sendiri indikasi something bagitu penting.

Kegalauan silam itu saya coba membuka file berita online. Nah nemu kliping 2018, di Kompascom, ihwal indikasi pengaturan skor.

Andi Darussalam Tabusala angkat bicara terkait dugaan tersebut saat memberi tanggapannya dalam acara Mata Najwa bertema “PSSI Bisa Apa Jilid 2”, pada Rabu (19/12/2018) malam.

Dalam acara dihadiri Jenderal Pol Tito Karnavian, saat itu Kapolri, dan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi itu, Najwa Shihab sempat menanyakan kepada Andi apakah benar ada pengaturan skor pada final Piala AFF 2010?

“Bang Andi, ramai di media sosial soal Piala AFF 2010, adakah match fixing ketika itu?

“Tidak ada, tapi pada saat terakhir, kira-kira setahun kemudian, saya kenal beberapa orang-orang Malaysia ini. Waktu itu, saya tanya, ‘Bagaimana Anda bisa mainkan itu sampai saya kalah.’ Di situlah mereka terbuka bicara, ‘Bang, kalau kami tidak mainkan orang abang itu, enggak bisa menang kami ini’,” jawab Andi.

“Ketika itu, disebutkan golnya 0-3 itu aneh?” tanya Najwa.

“Saya tahu, sampai detik ini saya bisa ceritakan enggak pernah saya bisa lupa. Pada menit awal pertama, harusnya Maman Abdurrahman (bek timnas Indonesia di Piala AFF 2010), biarkan itu bola, bola itu akan keluar. Tetapi, dia biarkan itu, beri kesempatan ke pemain lawan untuk memberikan umpan, di situlah gol pertama,” tutur Andi.

“Gol kedua demikian juga. Di dua pertahanan yang terbuka itu, itu terjadi gol itu begitu cepat yang dicetak oleh Safee Sali (striker timnas Malaysia di Piala AFF 2010). Jadi, saya tidak pernah lupa, karena cita-cita saya hanya satu, saya belum pernah bawa Indonesia juara,” ujarnya.

Jadi pasti ada match fixing?

“Saya katakan, setelah pertandingan, ramai orang mengatakan bahwa seolah-olah ini diatur, dengan saya sebagai manajer, di situ saya mencari dan mengejar, dan saya yakin pertandingan 0-3 itu saya dimainkan. Namun, saya tidak punya bukti untuk menuduh orang seperti itu, tetapi dari cara bermain, kita tentu bisa lihat khan,” ujarnya.

“Kalau analisis saya pribadi ketika itu kita kalah, saya terlena di dalam mencoba menjaga hotel pada waktu itu. Karena kami menang 5-1 (di fase grup) dan saya merasa yakin hotel itu steril. Namun, kalau saya dipanggil Pak Kapolri, saya jelaskan siapa orang yang masuk itu. Semua keterangan akan saya berikan kepada satgas agar sepakbola Indonesia lebih baik,” katanya.

Sampai detik saya opload tulisan ini kasus 2010 itu tak pernah diusut tuntas. Namun kalau Anda tanya saya, mata batin saya mengatakan kalau terindikasi sangat tajam pengaturan skor kala itu.

Olahraga secara riil sportifitas. Dalam riil memang indikasi judi, dan “mainan” unik sulit dihindari. Kawan saya mengatakan kita lahir ke dunia saja sejatinya judi, karena tak dapat memilih, misalnya saya lahir ingin jadi anak raja Inggris. Ini analogi ekstrim menanggapi Bola dan judi.

Saya menjadi teringat ketika 6 tahun lalu ke Korea. Di Soul di salah satu jalan utama di mana kala Korea-Jepang tuan rumah workd cup 2002. Jalanan itu tempak warga tumpah ruah.

Dominan warga Korea sebel banget kepada Jepang, sampai-sampai di museum Ginseng, tanaman yang asal Jepang, disimulasikan kurus kecil seperti serat akar saja.

Maka menjadi tuan rumah, penyebutan nama negara duluan menjadi vital. Korea memaksa harus nama Korea di depan Jepang. Dan itu disetujui FIFA, kata kawan saya itu, itu urusan mahal. Pun bagaimana ketika mereka bisa sampai semi final, kalau penuturan kawan itu ada indikasi korporasi Korea sampai bawa uang satu psewat demi memberi kemenangan ke Korea melawan tim dari salah satu negara Afrika.

Kelucuan di lapangan pun terjadi kala itu di mana pemain Korea sampai minta foto ke pemain Italia kegemarannya. Foto kekaguman pemggemar itu heboh menghiasi koran Korea kala itu.

Kembali ke AFF final, mendatang.

Indonesia akan berhadapan dengan pemenang Vietnam lawan Thailand.

Bisakah kita juara.

Bisa.

Juara dari lubuk hati.

Kalimat itu saya yakini sejak lama, terutama sejak ikutan Alm., Edward Linggar membuat pelatihan motivasi New Born Seminar, sejak awal hingga medio 90-an.

Saya ketemu Tristan Alif Naufal, yang sempat diterima Ajax Academy di Belanda. Kata Tristan di suhu sekolah bola dunia itu, di front officenya ditulis kalimat: juara dari lubuk hati. Penghujung 2019 bersama Tristan kami launching kegiatan #JugglingIdol, kompetisi ball handling, uji lama kuasai bola tak jatuh ke lantai.

Saya mensyarakat minimal 30 menit dapat di-handle bola tak jatuh ke lantai. Kegiatan itu saya yakini meningkatkan kemampuan penguasaan bola sesuai teori Will Curver. Sayang Covid, kegiatan itu terhenti, padahal saya mencari 33 remaja berkemampuan handling top, tapi bukan free style.

Kepada seorang Capres pun pernah saya sampaikan, era Bapak Presiden, Indonesia harus masuk saja dulu wakil Asia ke Piala Dunia. Perkara ke semi final apalagi final nomor sekian.

Dasar saya menyampaikan kalimat tadi karena menonton Invictus sebuah film drama biografi, 2009, disutradarai Clint Eastwood, diperankan Morgan Freeman dan Matt Damon.

Cerita film ini didasarkan pada buku karya John Carlin berjudul Playing the Enemy: Nelson Mandela and the Game That Made a Nation bertutur tentang peristiwa terjadi di Afrika Selatan sebelum dan selama berlangsungnya Piala Dunia Rugbi 1995. Bagaimana Mandela dapat memotivasi tim Nasional Rugbynya, dalam setahun kemudian juara dunia

Juara dari lubuk hati.

Saya misalnya menempatkan sangat penting bila seorang presiden mau sekali saja berdiri di kali air deras pegunungan bersama 33 pemain bola nasional berkemampuan juggling lebih 30 menit, di pukul 03 dinihari. Mereka lengket menguasai bola. Pimpinan nasional motivasi juara.

Mungkin jika kita bisa juara AFF kali ini penghiburan di saat pandemi, lebih dari itu kalau saja bisa masuk wakil Asia ke Pilia Dunia: itulah dignity, selama ini terindikasi tenggelam diksi itu.

Berkaca ke Invictus, juara dimulai dari lubuk hati. (*)

LEAVE A REPLY