Memutus Mata Rantai Stunting, Dosen UBB Gelar Sosialisasi Pencegahan di Kalangan Remaja

Memutus Mata Rantai Stunting, Dosen UBB Gelar Sosialisasi Pencegahan di Kalangan Remaja

BERBAGI

Suarapos.com – Sejumlah dosen Universitas Bangka Belitung, melakukan sosialisasi pencegahan dini stunting bagi siswa SMA Negeri 1 Merawang dan SMA Negeri 1 Sungailiat, Kabupaten Bangka.

Kegiatan yang dilaksanakan tanggal 25 Mei sampai 27 Mei 2022, sebagai wujud pelaksanaan Tri Darma Perguruan Tinggi yakni pengabdian masyarakat.

Ketua Tim Dr. Devi Valeriani yang juga Dekan Fakultas Ekonomi, melalui keterangan tertulis kepada Suarapos.com Grup Suarabangka.com, Minggu pagi, 29 Mei 2022, mengatakan kegiatan bertajuk, “Gerakan Pencegahan Dini Stunting Melalui Edukasi Pada Remaja Di Kabupaten Bangka” adalah upaya menurunkan angka stunting di Bangka.

Apalagi kata Devi di Kabupaten Bangka, angka stunting tertinggi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

“Setiap tahun jumlah anak yang mengalami stunting mengalami peningkatan. Kondisi Angka stunting di Kabupaten Bangka sejak Tahun 2017 menjadi peringkat tertinggi di Provinsi Kepualaun Bangka Belitung yakni berada dikisaran 32,27 persen, namun pada Tahun 2018 turun menjadi 8,9 Persen,” kata Devi.

Kemudian ia mengatakan upaya menekan angka tersebut terus dilakukan. Sehingga di akhir Tahun 2021 telah mencapai 1,68 Persen. Kabupaten Bangka bercita-cita menuntaskan angka stunting pada Tahun 2023 atau zero stunting Tahun 2023.

Selain itu provinsi telah menetapkan program prioritas dalam penanganan stunting. Menurut Devi tugas dalam penurunan angka stunting adalah tugas bersama sehingga harus ada peran dari seluruh perangkat daerah, stakeholder, akademisi dan masyarakat secara bersama-sama.

Devi mengungkapkan pemerintah akan melakukan langkah intervensi dengan membentuk tim bekerjasama dengan BKKBN.

“Peran akademisi melakukan edukasi dan sosialisasi dengan mengundang para narasumber yang berkompetens pada bidangnya melalui mitra BKKBN,” ujarnya.

Ia mengingatkan dibutuhkan peran aparat sektor luar kesehatan untuk edukasi dan sosialisasi bagi remaja agar memahami permasalahan stunting.

Selain itu sosialisasi harus menyasar kalangan remaja. Sebab, kata Devi faktor pemicu terjadinya stunting adalah double burden yakni kekurangan gizi dan kelebihan gizi.

“Hal tersebut merupakan asal dari 1.000 Hari Pertama Kehidupan yang merupakan faktor terjadinya stunting,” katanya mengutip Hamzah, 2020.

Hasil kajian Valeriani, dkk (2020), faktor lainnya penyebab stunting adalah pernikahan usia dini yang dilakukan kedua orang tuanya, dan rendahnya pendidikan orang tua anak berstatus stunting.

Kegiatan ini, menurut Devi implementasi dari kajian yang pernah dilakukan sebelumnya.

“Diperlukannya edukasi pada remaja terutama dalam meningkatkan pengetahuan tentang pencegahan stunting lainnya dapat memutus mata rantai kejadian stunting pada balita,” katanya.

Ia berharap remaja menjadi agen pencegah stunting karena dengan memiliki pengetahuan yang baik tentang upaya pencegahan stunting.

“Informasi yang diperoleh dapat ditularkan kepada remaja sebayanya,” kata Devi.

Kegiatan dilalukan secara interaktif, dengan pemaparan materi, penayangan video dan beberap games yang bersifat edukasi.

Devi menyebutkan anggota tim lainnya Dian Prihardini Wibawa, Revy Savitri dan Rion Apriadi.

Hingga berita ini diturunkan masih diupayakan konfirmasi dan verifikasi kepihak terkait. (fh)

LEAVE A REPLY