Thorium Beda dengan Uraniun, Ridwan Ingatkan Pentingnya Komunikasi Publik

Thorium Beda dengan Uraniun, Ridwan Ingatkan Pentingnya Komunikasi Publik

BERBAGI

Suarapos.com  – Upaya mengembangkan energi biru yang bersumber dari thorium terus dilakukan. Namun masih saja ada yang salah paham sehingga tidak bisa membedakan thorium dan uranium.

Makanya peran komunikasi publik penting dilakukan agar masyarakat mendapatkan informasi akurat sehingga tidak terjadi lagi salah persepsi akibat kurangnya informasi.

Hal ini diungkapkan Penjabat Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Ridwan Djamaluddin ketika menjadi narasumber Launching Festival Nuklir II Tahun 2022 dan seminar nasional bertajuk “Energi dan Bangka Belitung: Transformasi Energi Menuju Bangka Belitung Berdaulat” di Gedung Mahligai Rumah Dinas Gubernur, Pangkalpinang, Kamis (15/12/22).

Baca Juga  29 Peserta UKW PWI Babel Kompeten, Ini Tiga Substansi Pengujian

“Kegiatan ini sangat bagus karena melibatkan generasi muda dan para ilmuan agar pemahamannya benar. Untuk itu, kita terus upayakan agar hal ini bukan hanya jadi wacana saja, tetapi terlaksana dengan baik,” katanya.

Ridwan menjelaskan thorium tidak sama dengan uranium, karena tidak bisa menjadi senjata. Pengayaan proses teknologinya juga berbeda, sehingga risikonya akan lebih terkendali dibandingkan uranium.

Terkait pro kontra yang terjadi, terutama kontra karena ketidaktahuan, dirinya mengingatkan bahwa tugas pemerintah termasuk badan usaha adalah menjelaskan kepada publik.

Baca Juga  Investor Siapkan Dana Triliunan Rupiah, Developer Property Syariah Akuisisi 1.000 Hektar Lahan Tahun 2022

“Bangka Belitung punya kelebihan dibandingkan daerah lain. Apa kelebihan kita? Salah satu potensi kita adalah lumbung energi yang berbasis thorium. Secara nasional thorium paling banyak itu disini (Babel),” ungkap Ridwan.

Diungkapkan Ridwan, hingga kini kebutuhan energi masih mengandalkan energi fosil. Hal ini kerap dipersoalkan karena dinilai mencemarkan, emisi karbon, dan lain-lain.

Tren isu global saat ini adalah pemanfaatan energi baru dan terbarukan. Dunia menginginkan energi yang lebih ramah lingkungan.

Diakui Ridwan, meski Babel punya potensi besar karena memiliki bahan dasar, namun masih terkendala beberapa hal. Secara teknologi, belum ada yang operasional.

Baca Juga  Mensos Risma Serahkan Bantuan Kapal untuk Nelayan Bangka

“Listrik ini akan menjadi murah, jika listrik murah, nanti industri akan masuk. Nah, jika industri sudah masuk, kita akan membuka lapangan pekerjaan yang ujung-ujungnya adalah kesejahteraan masyarakat,” paparnya.(*)

LEAVE A REPLY