2
Bola Juara Berdignity Bisa

Bola Juara Berdignity Bisa

BERBAGI

Catatan Iwan Piliang
(Content Director)

PEKAN lalu ada dua tokoh saya kenal mendaftar menjadi calon ketua umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). Pertama, La Nyalla Mattaliti, juga Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia – DPD RI. kedua Erick Tohir, Menteri BUMN.

Pada Februari mendatang PSSI memang akan Kongres Luar Biasa (KLB) memilih pengurus baru. Hingga saya menuliskan ini, belum ada sosok orang BIASA tampil maju Caketum-nya. Bola memang olahraga top, industri, mungkin karena latar itu di negeri kita ini harus orang penting ketuanya, mulai dari mantan menteri dan jenderal aktif, pernah tercatat memimpin. Jabatan para orang penting itu kendati banyak tetap ingin urus bola.

Dari dua orang penting sudah mendaftar itu, paling intens berkomunikasi dengan saya, Nyalla. Terakhir bertemu saat pertandingan semi final piala AFF, Indonesia lawan Vietnam, saya sempat menyalaminya di GBK di panggung VVIP, 6 Januari lalu.

Sebelumnya Bang Nyalla, sempat mampir hampir 2,5 jam dengan rombongan DPD, ke kediaman kami di Jimbaran Bali, sebelum menuju Gala Diner G-20, di GWK, Bali. Berbalas pesan dengannya di WA rutin.

Eto, sapan akrab Erick Tohir, yunior saya di HIPMi, saya dilantik 1991. Ketika Muhammad Lutfi jadi Ketua HIPMI DKI, kami sama-sama pengurus.

Eto juga satu almamater dengan saya di SMA3 Jakarta. Saya alumni 1983. Terakhir jumpa Eto lima tahun lalu dalam sebuah resepsi pernikahan di meja VIP. Salah satu nomor HP-nya saya punya, acap saya mengirim pesan, dominan mengkritisi terutama BUMN. Kritik tajam saya ihwal dana Telkom lebih Rp 6 T disalurkan ke Goto, indikasi kuat konflik kepentingan karena ada saham kakaknya di Goto.

Lahiriah di bumi ini, jika masih manusia judulnya, tak suka dikritik. Saya pun lebih senang dipuji, walau setelah dapat pujian saya injak kaki sendiri dalam-dalam. Maka walau sering kirim pesan, dan mengenal juga, sehuruf pun tak ada balasan Eto ke saya apalagi untuk sekadar tulis: thank you. Dugaan waktunya sangat sibuk.

Sikap Eto berbeda dengan Nyalla. Saya kadang WA Nyalla nyeleneh, bahkan kritik tajam. Balasan mengirim himbauan shalat Tahajud, ajakan shalat Dhuha.

Di kedua sosok ini ada yang sama untuk Caketum PSSI. Yakni sama-sama bilang ke media akan membasmi mafia di Bola!

Baca Juga  Mengejar Emas Benua Maritim Indonesia

Mak!

Berarti mafia di Bola itu benaran ada?

Eto secara spesifik bilang akan bersih bola dari tangan-tangan kotor. Butuh nyali katanya. Jadi serem amat PSSI, apa begitu?

Jika benar demikian, wajar bila sepak bola kita sampai kiamat dugaan saya tak akan bisa masuk piala dunia.

Saya awami di kepengurusan Bola.

Tapi saya penggemar bola akut.

Perjalanan waktu, pada penghujung 2019, datang seorang remaja bernama Tristan Alif Naufal diantar ayahnya ke rumah kami di Jakarta. Seperti banyak kasus kepahitan lain mengadu ke saya, Tristan sempat diterima di Ajax Academy, sekolah bola top laksana bank Citibank-nya.

Tristan dipilih oleh talent scoter independen. Sebagai pembanding cucu ratu Belanda saja ingin masuk sekolah Ajax Academy, tidak bisa, kecuali hanya complimentary dua minggu sebagai tamu.

Berkah Tristan itu tak jadi tuah.

Ia terkendala ketentuan anak umur di bawah 18 tahun harus didampingi orang tua. Ayahnya memohon minta keterangan bekerja di kedutaan entah sebagai honorer staf lokal, tanpa gaji, ternyata di era Dubes kala itu, kini Menlu RI, tak memberi kesempatan. Tak ada kebijakan. Aturan ya aturan.

Tristan hanya 2×3 bulan saja ke Ajax, Belanda. Ketika Pep Gardiola, mantan pemain Barcelona, pelatih Mencheayer City, ke Jakarta bertemu Tristan, ia bilang, “Sayang kamu lahir di Indonesia.”

Dua anak sebaya Tristan, kata Gardiola, satu dari Jepang, satu Perancis, sudah main di klub yunior Barcelona. tiga anak ini menurut Gardiola calon pengganti Messi. Hal ini dia sampaikan di sebuah televisi ketika datang ke Jakarta, Juni, 2012.

Saya simak Tristan saat di rumah kami. Ia membawa map tebal. Isi, fotonya dengan ragam pejabat dari Presiden Jokowi, Menpora hingga tokoh bangsa lain. Semuanya seakan tak membantu. Maka kala itu saya tanya Tristan, berapa menit Alm., Pele, waktu seusiamu, ketika juggling – – tendang angkat-angkat bola, tak jatuh ke tanah?

“Lebih 30 menit Oom,” jawab Tristan.

Kamu bisa juggling berapa menit?

“Saat ini paling lama dua menit.”

Kalau begitu saya tak minat berfoto denganmu, kata saya. Untuk bisa 30 menit juggling, Tristan butuh latihan berapa lama?

“Satu bulan Oom.”

Kala itu mereka saya minta pulang kalau sudah bisa 30 menit, kirim video kita bertemu.

Baca Juga  M Amin Soelthon Tokoh Pers yang Mengayomi itu Telah Pergi untuk Selamanya

Dugaan saya Tristan akan butuh 3 bulan. Di luar dugaan dua pekan dia kirim video sudah bisa 24 menit. Maka saya ajak Tristan jumpa, kami buat #jugglingidol. Kegiatan itu kami launching 10 November 2020 di Surabaya secara indie, setelah dapat dukungan dana Rp 200 juta dari Satar, grup usaha Tower Bersama, plus standby hadiah Rp 1 miliar bagi 66 juggler terlama.

Nalar saya kalau ada 66 hebat ball handlingnya harapan separuh akan jadi pemain hebat seperti Tristan. Lalu buat sekolah bola khusus, Tristan dikirim lagi ke Ajax, sehingga ilmu bisa ditularkan. Di saat libur ke 66 anak binaan.

Sayang kegiatan juggling terhenti, karena Covid awal 2021. Padahal di Pemda DKI kami sempat difasilitasi Kadis Olahraga dan Pendidikan menjelaskan ihwal paradigma bermain bola. Ball handling, seperti juggling harus mumpuni. Kepada para pelatih bola di dinas olahraga DKI, saya jelaskan soal buku Will Curver. Rupanya banyak pelatih mantan pemain hebat, tapi minim membaca buku, apalagi buku sastra, novel bermutu.

Seorang Mandela, di film INVICTUS disutradarai Client Easwood, mengangkat kisah nyata bagaimana Afrika Selatan, dalam setahun dimotivasi Mandela, tim Rugby-nya menjadi juara dunia.

Mandela datang ke lapangan, memberi selembar kertas puisi Invictus untuk dibaca kapten dan tim. Film Invictus salah satu dari banyak film bagus berulang kali saya tonton. Melalui Rugby, Mandela membangun memperkuat dignity bangsanya.

Melalui sepak bola sejatinya, Indonesia dapat mempersolid kebhinekaannya.

Sayang, dari verifikasi saya aura negatif menggelayuti persepak-bolaan kita. Jadi bukan soal mafia atau kotoran-kotoran.

Di sebuah sekolah bola papan atas di Senayan Jakarta saya pernah menyimak iklan papan segitiga di pinggir lapangan bertuliskan: STOP PENCURIAN UMUR.

Di saat latihan bertanding, para pendamping siswa di pinggir lapangan bola tiga kata saja teriakannya: HAJAR, SIKAT, MATIIN.

Ke Tristan saya berterima kasih. Saya katakan pada anak muda hebat itu, kalau saya memiliki penemuan, mengapa sepak bola kita tak kunjung juara. Pertama aura negatif di lapangan bola nyata, simak saja iklan dan tiga kata tadi.

Lebih dalam lagi saya teringat Ciputra pernah saya tulis 1986 untuk SWA. Saya bertanya kepadanya kenapa bisa menjalankan proyek property sekali banyak, multi layer dan Pak Ci tetap enjoy?

Baca Juga  Dode Stap Perjuangan Pulau Tujuh

“Saya tak pernah urus tikus.”

“Di pengadaan besi, semen, kayu, dan lain-lain selalu ada tikus.”

“Ngapain saya urus tikus?”

Maksudnya?

“Saya hanya berpatokan pada cash flow dan untung di kertas. Itu saja saya pelototin. Kalau hasil sudah cocok dengan cash flow. Aman.”

Pakai pola itu Pak Ci juateru acap dapat bonus keuntungan jauh di atas yang direncanakan. Maka keuntungan lebih dari target itu dia jadikan bonus. Artinya Pak Ci berpikir positif tak sibuk urus aura negatif.

Di lobby Ajax Academy, kata Tristan ada tulisan besar:
Kampioen uit de grond van mijn hart

JUARA DARI LUBUK HATI, kira-kira gitu terjemahannya.

Karenanya pembinaan Bola di Ajax ada strata 8-11 tahun; 11-14 tahun;14-18 tahun. Penguasaan bola utama, ball habdling, plus gizi, asupan protein tinggi dan itu tadi spirit juara dari lubuk hati. Makanya walau di semua olahraga ada judi dan negatif lain, pengelola mereka bermental positif, berbudi tinggi dan motivator mumpuni.

Maka ketika Umrah singkat dengan Pak Jokowi 2014 saya katakan kalau Bapak Presiden, bola kita harus masuk piala dunia.

Ia bertanya, “Caranya?”

Saya jawab cukup presiden terpilih berdiri sejam di kali air deras pegunungan jam 3 dinihari dengan 33 pemain pilihan.

Serta merta Alm.Kyai Hasyim Muzadi yang mendengar kalimat saya tertawa. “Out of the box,” celetuknya.

Soal juara dari lubuk hati, kata Tristan 60% dari tagline di lobby Ajax itu utamanya, selebihnya pondasi teknis sesuai rentang usia dan gizi.

Apakah dapat dua calon Ketum PSSI di atas saya sebut membawa Bola kita juara? Bangsa berdignity?

Saya tentu tak bisa menjawabnya.

Keduanya saya kenal, walau cuma satu dari mereka yang berkomunikasi intens dan tak marah dikritik.

Lubuk hati Anda sidang pembaca dapat menilainya. Ibarat di politik, karena kuat dugaan calon Ketum ini melihat taktis politis jadi pengurus PSSI.

Karena itu mereka Caketum pun dianggap pengurus lain harus tambun uangnya.

Padahal saya yakin kalau lubuk hati bekerja, jika ada sosok dipercaya warga, maka 50 juta orang Indonesia mau kok urunan masing-masing sejuta, membina ala Ajax, memotivasi ala Mandela di Invictus, mengumpulkan dana abadi pembinaan Indya Allah ada. (*)

LEAVE A REPLY