Adu Nyali di Teluk Kelabat Dalam, Nelayan: Kami Tetap Melawan

Adu Nyali di Teluk Kelabat Dalam, Nelayan: Kami Tetap Melawan

"Kami seperti adu nyali dengan para penambang timah di Teluk Kelabat Dalam,"

BERBAGI

Suarapos.com – Seperti tidak pernah lelah dan bosan, nelayan Desa Riding Panjang dan desa sekitarnya di Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, terus berteriak meminta keadilan atas nasib mereka. Perjuangan ini sepertinya tidak akan pernah padam atau dipadamkan.

“Kami seperti adu nyali dengan para penambang timah di Teluk Kelabat Dalam,” kata Ketua Umum Nelayan Desa Riding Pangjang, Wisnu, siang itu di Pulau Dante, Rabu, 1 Juni 2022.

Sebab kini di Teluk Kelabat Dalam beroperasi sekitar 400 tambang timah jenis rajuk. Padahal teluk kelabat dalam adalah wilayah tangkap nelayan yang menggunakan alat tangkap sedernaha seperti jating, pancing dan bubu.

Akibat tambang ini otomatis wilayah tangkap nelayan semakin sempit dan terus terdesak karena ponton isap para penambang terus bergeser ke wilayah tangkap nelayan yang tersisa.

“Setiap pagi kami adu nyali dengan penambang. Terutama di sekitar wilayah tangkap Pulau Dante. Penambang kami suruh angkat jangkar, jangan ganggu kami,” kata Wisnu.

Padahal penjaga ponton itu bisa sampai tiga puluhan orang. Nelayan tidak gentar.

“Kalau dengan satu orang nelayan mereka tidak pergi, banyak-banyak nelayan datang. Kami angkat jangkarnya,” ujar Wisnu.

“Terkadang mereka, tapi kalau dak ada pemilik ponton. Kalau mereka sedang tidak ada, nelayan yang angkat. Kalau kami angkat, ponton penambang dibawa arus hanyut,” sambungnya.

Selain wilayah tangkap nelayan di.perairan dangkal itu semakin sempit, hasil tangkapan pun terus berkurang.

Jika dulu nelayan sehari dari hasil menjaring udang seorang nelayaj mendapatkan sekitar 3 kilogram sampai belasan kilogram, tapi kini hanya berkisat 1 kilogram. Bahkan terkadang hanya beberapa ons saja.

Selain wilayah tangkap semakin sempit, hal ini akibat penambangan air menjadi keruh dan di alur air masuk yang sempit itu ada pula ratusan tambang selam beroperasi.

Akibatnya alur masuk air dari arah laut menuju Teluk Kelabat Dalam terhadang aktivitas tambang selam.

“Udang dan ikan sepertinya takut atau menghindar masuk teluk. Air yang keruh juga menyebabkan udang berkurang,” kata Wisnu.

Tak hanya itu, lokasi yang sudah ditambang juga menyisakan persoalan lingkungan.

Penambangan mengakibatkan terjadinya semacam palung palung atau lubang-lubang besar dan pasir sisa disedot menumpuk. Hal ini membuat perahu kayu bersin tempel milik nelayan sering menabraknya atau kandas.

“Jika air sedang surut, kelihatan tumpukan tumpukan pasir. Di sejumlah lokasi yang dulu tempat kita menjaring udang, kini menjadi dangkal,” papar Wisnu.

Nelayan juga mengeluhkan jaring udang mereka sering tersangkut kayu yang terpancang dan tergeletak dalam air, pipa paralon dan besi yang ditinggalkan begitu saja oleh penambang.

“Jaring kami sering robek bahkan tergulung,” kata Wisnu.

Puluhan Speed lidah yang lalu lalang melayani kepentingan para penambang itu sering menabrak jaring nelayan yang terpasang. Akibatnya jaring sering putus dihantam speed yang melaju dengan kecepatan tinggi.

Siang itu Wisnu dan sejumlah nelayan sedang beristirahat di Pulau Dante. Pulau ini menjadi semacam rumah peristirahatan bagi mereka dikala lelah melaut.

Di pulau ini pula pada sisi sebelah selatan mereka bangun pondok berukuran 3 x 4 meter. Pondok berdinding papan dan beruatap asbes ini dibangun secara bergotong royong.

Selain itu, pondok ini menjadi tempat pertemuan para nelayan merembukkan nasib mereka yang kini kian terdesak.

Ketika beristirahat siang di pondok ini, Wakil Ketua Forum Nelayan Teluk Kelabat Dalam
(FNTKD) Akoy mengatakan akan tetap mempertahankan wilayah tangkap mereka.

Akoy mengungkapkan dulu pernah menambang di darat. Jadi ia tahu betul penambangan itu tidak bisa untuk selamanya.

Sebab depositnya terbatas. Jika sudah ditambang, lokasi rusak tidak bisa diperbaiki lagi. Apalagi penambangan di laut.

“Kami tahu kejayaan tambang sampai dimana. Tapi kalau laut itu lestari, anak cucu masih bisa menikmati hasil laut atau mereka bisa jadi nelayan. Tapi kalau laut pun dirusak, bagaimana nelayan seperti kami ini?” ujarnya.

Penambangan di areal Teluk Kelabat Dalam sudah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir.

Dan sepanjang itu pula penolakan dan perlawanan nelayan. Bahkan dulu sempat dibuat semacam kesepakatan.

Ada semacam mana wilayah penambang dan mana wilayah tangkap nelayan.

Lokasi yang sudah ditambang, tidak akan dipersoalkan. Tapi jika sudah selesai mereka harus angkat kaki. Tidak boleh menjamah ke areal tangkap nelayan.

Tapi dilanggar penambang. Akoy menyebutkan penambang seperti tidak puas.

“Kesepakatan itu tahun 2020. Jangan masuk batas nelayan, tapi kenyataannya mereka terus merangsek.”

Wilayah tangkap nelayan yang belum ada tambangnya tinggal antara Pulau Dante dan Pulau Mengkubung.

Jarak antara kedua pulau ini sekitar 3 mil atau jika ditempuh dengan perahu kayu bermesim tempel milik nelayan dari dan menuju salah satu pulau maksimal 15 menit.

Wisnu, Akoy dan nelayan Teluk Kelabat Dalam tetap berkomitmen melanjutkan perjuangan mempertahankan wilayah tangkap mereka yang semakin dipersempit ativitas penambangan.

“Kami hanya minta keadilan. Kami punya hak untuk hidup dan mencari nafkah sebagai nelayan. Dan kami adalah nelayan, yang namanya nelayan mencari ikan dilaut. Jangan janggu tempat kami mencsri nafkah. Teluk Kelabat Dalam Tetap Melawan,” kata keduanya.

Kamis sekitar Pukul 10.00 Wib, perwakilan nelayan Teluk Kelabat Dalam diagendakan bertemu DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, guna membahas persoalan ini. (SP)

LEAVE A REPLY